Cerita musim 2003 PSS Sleman di Liga Indonesia menjadi torehan sejarah. Pada musim ketiganya dalam kasta tertinggi Liga Indonesia itu, PSS menjelma menjadi raksasa sepakbola di dalam negeri.
Komposisi pemain yang dimiliki PSS sebetulnya tak terlalu mentereng jika dibandingkan dengan klub besar lainnya, seperti PSM Makassar, Persik Kediri, hingga Persija Jakarta.
1. Trio Brasil
Salah satu faktor yang membuat PSS bisa berjaya di musim tersebut adalah trio Brasil. Tiga pemain asing PSS itu adalah Anderson da Silva, Marcelo Braga, dan Jaldecir Deca dos Santos. Ditambah dengan Claodio Vijan, namun lebih sering jadi penghangat bangku cadangan.
2. Dilatih Yudi Suryata
Pada musim itu, klub yang lahir pada 20 Mei 1976 ini dilatih oleh Yudi Suryata. Tak sendirian di sana, ia ditemani oleh dua sosok kepercayaannya, yakni Maman Durachman, dan Lafran Pribadi sebagai asisten.
Kerja-kerja mereka di PSS terbukti mampu mengangkat performa klub. Harmonisasi antara pemain asing dan lokal berjalan lancar, sehingga dapat bahu-membahu dengan baik di atas lapangan hijau.
3. Pelan tapi Pasti
Langkah PSS Sleman di musim 2003 itu pelan tapi pasti. Pada awal musim, PSS tidak langsung tancap gas. Pada pertandingan pertama, mereka bermain imbang 1-1 melawan Pelita KS.
Di laga kedua menahan Persija Jakarta dengan skor 1-1 di Jakarta, dan imbang 1-1 lawan Solo FC, dan ditahan dengan skor kacamata oleh PSPS Riau. Kemenangan perdana baru diraih saat melawan Persita dengan skor 2-1.
4. Prestasi Klub dan Pemain
Pada akhir musim itu, PSS menempati peringkat keempat dengan 60 poin. Kemudian di atasnya ada PSM dan Persita dengan 62 poin, dan sang juara Persik Kediri dengan 67 poin.
Pemain tersubur PSS pada musim 2003 ini adalah Marcelo Braga dengan 21 gol. Selain itu, PSS juga menorehkan prestasi dengan catatan apik tak terkalahkan di kandang selama delapan kali beruntun.











